Terulang Kembali

00.43



Ini bukan gurat-gurat ungkapan tentang indahnya lampu sorot yang tumpang-tindih, atau suara lelaki yang sudah kita kenal baik. Bukan pula tentang rasa kecewa yang disebabkan oleh tak bisanya aku berfoto berdua dengannya, atau betapa tampannya ia saat dilihat langsung. Kita semua sudah tahu betapa sempurnanya lelaki ini (dan empat lelaki lainnya, tentu saja). Aku terduduk pada entah yang panjang, ketika dengan cepat segala perasaan bahagia digantikan oleh kecamuk. Sudah beberapa kali aku merasakan hal semacam ini. Ketika mereka (Westlife) meninggalkan panggung dengan lambaian ringan, berkata bahwa mereka mencintai kita, dan menghilang ke belakang panggung. Perasaan sepi yang hebat bergulir tanpa henti setelahnya. Dan kali ini aku tidak bisa menahannya. Aku hafal betul tradisi “Ini lagu terakhir kami, selamat tinggal, kami cinta kalian” yang kerap dilakukan Westlife. Aku tahu setelahnya mereka akan muncul lagi dan melakukan encore, seraya tersenyum seolah berkata: “Nah, lihat, kami belum benar-benar pergi.”

Karena itulah sebelum Shane melakukan encore, air mataku tumpah berlangit-langit. Aku tahu betapa bodohnya ia berpura-pura meninggalkan panggung, karena kami tahu ia akan kembali muncul dan menyanyikan satu lagu lagi. Ia bahkan berkali-kali berkata “ini lagu terakhirku”, dan pada ketiga kalinya ia berkata begitu, barulah konser benar-benar menginjak akhir. Ia seperti sulit meninggalkan kami, dan mengakhiri dengan “Oke, aku akan memberikan kalian satu lagu lagi”, dan ia menghilang ke belakang panggung, soundsystem dicabut. Selamat tinggal.

Tentu bukan hanya aku yang merasakannya, bukan? Ketika kita sudah bukan lagi seorang penggemar biasa, yang bukan hanya memiliki koleksi, namun juga koneksi hati untuk setiap hal yang ada pada idola kita, segalanya menjadi sulit. Tak bisa dipungkiri mereka membuat kita menjadi lebih baik: mereka membuat kita bahagia dengan wajah, lagu, suara, tindakan, dan lelucon mereka. Bahkan beberapa diantara kita merasa diselamatkan dan dilindungi. Mereka membuat kita termotivasi belajar bahasa Inggris agar ketika kita memiliki kesempatan bertemu, kita bisa berkata, “Can I have a picture with you?” atau “Can I have your signature?” tanpa tergagap-gagap seperti orang bodoh. Seperti aku, aku sudah menulis ratusan lembar cerita dengan Westlife sebagai tokohnya (sebagian bahkan ditulis tangan). Aku menjadi sangat produktif sejak sekolah dulu. Namun, seperti yang kukatakan: segalanya pun menjadi sulit. Ketika kita tak cukup umur untuk datang ke konser dan orangtua tak mengizinkan kita untuk pulang malam, ketika kita terlalu dewasa dan harus mengurus anak hingga tak ada waktu untuk berdiri berjam-jam seraya menjerit di bawah panggung, ketika kita tak memiliki cukup uang, jarak, waktu, dan keberanian sehingga yang kita lakukan hanya menangis di tempat tidur memandangi foto mereka, ketika mereka melakukan hal yang tidak berkenan di hati kita, ketika kita melihat orang lain berfoto sambil memeluk mereka, ketika mereka tidak menggubris pesan kita, ketika kita menyadari bahwa mereka bukan milik kita, ketika konser berakhir dan soundsystem dicabut. Segalanya begitu sulit.

Jika kalian terus mengikuti berita tentang mereka, tentu kalian tahu bisnis properti yang Shane jalani bangkrut ratusan miliar ketika krisis ekonomi. Ia membutuhkan uang, sangat manusiawi. Ia datang ke beberapa kota di Indonesia untuk hal yang sangat manusiawi, dengan senyum yang tak pernah luntur di wajahnya. Namun malam 29 September ketika konser nyaris mencapai puncaknya, dan ia menghadapi ratusan orang yang tak rela ia pergi, tatap matanya menghalus, menghangat, mengharu biru, kemudian mengudaralah kalimat itu: “Aku benar-benar mencintai kalian”. Tulus. Tanpa pretensi. Hening-bening, sebening hatinya.

Akankah malam itu kembali melakukan repetisi pada tahun-tahun berikutnya? Yang jelas, aku tahu kebahagiaan dan kesedihan akan kembali menghimpit dadaku (dan tentu menghimpit kita semua). Namun delapan belas tahun cukup untuk membuat kita tak mungkin pergi ke mana-mana. Kita sabar duduk menunggu. Untuk sekedar mendengar “Aku mencintai kalian” dan memandangi senyum yang berbelas-belas tahun kita pandangi di layar kaca. Yang kuharapkan, kita semua memiliki kesempatan untuk hal-hal manis itu.

-fin-

Note – encore: Performance ekstra yang diberikan penyanyi sebagai respon dari permintaan penonton/penggemar.

You Might Also Like

0 komentar

Popular Posts